Liburanku ke
Bali: Tanah Lot
Bulan Januari 2018 lalu, Aku pergi ke
Bali bersama kursusku, Happy English Course 2. Sebelum Aku pergi ke Bali, Aku
telah mempersiapkannya dari awal. Aku sudah membeli masker bersama Rian, Dedi,
dan Toni. Rian, Dedi, dan Toni membeli jam tangan, topi, dan kacamata hitam.
Sedangkan Aku membeli masker. Aku telah membelinya sehari sebelum berlibur ke
Bali.
Pada hari Senin pagi, ada briefing di aula HEC 2. Di waktu briefing itu, Mam Erna menjelaskan
peralatan yang boleh dibawa ke Bali dan hal-hal yang dilarang selama berlibur
ke Bali. Larangan tersebut adalah tidak boleh bertanya soal agama, status,
pekerjaan, dan lain-lain kepada turis asing. Karena itu bersifat privasi.
Peralatan yang boleh dibawa ke Bali adalah pakaian ganti, peralatan mandi,
jajan, buku nota, dan lain-lain. Setelah briefing,
Aku kembali ke kelas,
Di siang hari, Aku membeli jajan untuk travel ke Bali. Setelah membeli jajan,
Aku mempersiapkan peralatan untuk travel
ke Bali, yaitu peralatan mandi, pakaian ganti, peralatan tulis, dan masker.
Setelah itu, saya tidur siang. Aku bangun tidur siang dan mandi. Waktu Magrib
sudah tiba, Aku salat Magrib. Aku bersiap-siap ke Bali. Semuanya sudah beres,
cuma maskerku yang belum ketemu. Ternyata maskerku dipinjam oleh Mas Hakim. Aku
menuduh Mas Hakim bahwa dia mencuri maskerku, padahal dia hanya meminjam
maskerku. Aku minta maaf kepada Mas Hakim dan untung dia memaafkanku. Aku makan
malam di Warung Mama Figas. Sebelum bus datang, Aku salat Isya. Setelah itu,
ada briefing.
Di waktu briefing, Mam Erna menjelaskan kembali hal-hal yang dilarang selama
berlibur ke Bali. Larangan tersebut adalah tidak boleh bertanya soal agama,
status, pekerjaan, dan lain-lain kepada turis asing. Karena itu privasi. Briefing pun selesai, Aku dan
teman-temanku berbaris untuk mendengarkan informasi dan membaca doa. Bus pun
datang, Aku dan teman-temanku masuk ke dalam bus dengan tertib.
Ketika Aku masuk ke dalam bus, tidak ada
barang-barangku yang tertinggal di camp.
Semua sudah masuk. Tinggal duduk diam sambil mendengarkan music dan melihar
alam sekitar. Bus pun berhenti di Hotel Utama Raya, Situbondo. Di sana Aku
rehat sejenak dan pergi ke toilet. Aku membeli jajan dan minum di Minimarket
Hotel Utama Raya. Di Hotel Utama Raya, ada café, tempat nongkrong, SPBU,
penginapan, minimarket, dan toko oleh-oleh khas Situbondo. Di sana rasanya enak
banget buat nongkrong dan minum kopi di sana. Karena waktu rehat sudah selesai,
maka travel ke Bali dilanjutkan.
Setibanya di Banyuwangi, Aku salat subuh
di salah satu masjid di Banyuwangi. Setelah salat subuh, Aku mampir ke
restoran. Sesampainya di restoran, Aku mandi dan sarapan. Waktu sarapan sudah
selesai, perjalanan ini dilanjutkan. Akhirnya, sampailah di Pelabuhan Ketapang.
Di Pelabuhan Ketapang, Aku melihat indahnya lautan dan pegunungan. Sebelum
menyebrang laut, Aku dan penumpang lain harus keluar dari kendaraan. Sewaktu di
kapal, Aku melihat laut yang indah dan jernih dari kejauhan. Angin laut yang
berhembus terasa segar di hidungku. Angin laut yang segar membuatku terasa
sejuk. Aku melihat indahnya laut Indonesia. Laut Indonesia itu indah. Hal
inilah yang membuatku terasa senang ketika melihat indahnya laut Indonesia.
Akhirnya, sampailah di Pelabuhan
Gilimanuk. Ketika Aku berada di Pelabuhan Gilimanuk, Aku melihat ada toko
oleh-oleh khas Bali, masjid, dan pura yang berdiri berdampingan. Ketika
melewati Taman Nasional Bali Barat, Aku melihat ada kera yang bermain di hutan.
Pohon-pohon yang ada di sana itu masih lestari. Pemandangan Taman Nasional Bali
Barat itu indah. Ada pepohonan yang rimbun ditambah dengan hewan-hewan liar
yang hidup di dalamnya. Keadaan itulah yang dapat menunjukkan mata bagi siapa
yang melihatnya. Hutan di Taman Nasional Bali Barat masih lestari. Hal ini
terlihat dari pohon-pohon yang masih asri ditambah dengan hewan-hewan yang
bermain di dalam hutan.
Aku lihat jalan di Bali itu tidak
seperti di Jawa, jalannya berkelok-kelok. Maklum, di sana itu daerahnya
berbukit-bukit. Jadi, jalannya naik turun. Kulihat suasana desa di Bali yang
indah dan pemandangan sawah yang menyejukkan mata. Aku melihat ada bule yang
naik motor. Aku melihat ada pantai dan kebun sawit. Pantainya indah sekali. Aku
melihat ada warung makan khas Banyuwangi di Bali. Memang di sana ada banyak
warung Muslim di Bali. Ada yang berasal dari Banyuwangi, Jember, Surabaya, dll.
Tetapi yang paling banyak dari Banyuwangi dan Jember. Memang banyak warga
Banyuwangi dan Jember yang merantau ke Bali. Sisanya dari daerah lain.
Akhirnya, sampailah di Tanah Lot. Aku
mandi dan siap-siap masuk Tanah Lot. Aku masuk Tanah Lot. Setelah masuk ke
Tanah Lot, ada informasi dari tutor. Informasinya sama seperti yang dijelaskan
di Pare kemarin. Yaitu hal-hal yang dilarang selama berbicara dengan turis.
Penyampaian informasinya sudah selesai, sekarang tinggal membentuk kelompok
sendiri-sendiri. Percakapan dengan turis asing akhirnya dimulai. Aku dan
kelompokku bercakap-cakap dengan beberapa turis asing dan mencatat beberapa
turis asing tersebut ke dalam buku nota. Ada turis India yang mengatakan bahwa
masyarakat India dan Bangladesh itu ramah. Sama seperti masyarakat Indonesia.
Masyarakat Indonesia juga ramah. Aku dan kelompokku berfoto bareng turis India.
Setelah bercakap-cakap dengan beberapa turis asing, Aku dan kelompokku rehat sejenak.
Aku berfoto dengan turis asing dan memotret area di sekitar Tanah Lot, termasuk
patung dan lanskap Tanah Lot.
Aku dan teman-temanku pergi ke Pura
Tanah Lot. Tetapi tidak langsung ke Pura Tanah Lotnya, melainkan di pinggir
Pura Tanah Lot. Karena lautnya pasang. Aku dan teman-temanku tidak bisa
menyebrang ke Pura Tanah Lot. Di sana, Aku berfoto bareng teman-temanku.
Selesai berfoto di Pura Tanah Lot, Aku pulang sama teman-temanku. Aku melihat
suvenir dan alat musik tradisional khas Bali yang dijual di area Tanah Lot. Aku
dan teman-temanku pergi ke pusat oleh-oleh di area Tanah Lot. Di sana ada kolam
ikannya. Aku dan teman-temanku makan siang. Di sini disediakan makanan halal,
jadi Aku tidak perlu khawatir soal makanan yang disediakan di sini. Di sini
juga ada sate lilit. Sate lilit di sini halal juga. Soalnya dibuat dari daging
ikan tuna. Jadi, halal bagi wisatawan muslim. Makan siang pun sudah selesai,
Aku dan teman-temanku pulang. Di sepanjang stan oleh-oleh dan penjual makanan
dan minuman, bertuliskan aksara Mandarin. Karena turis Tiongkok hanya bisa
berbahasa Mandarin, tidak bisa berbahasa Inggris. Aku dan teman-temanku masuk
bus. Kita pulang dari Tanah Lot.







